25.8.12

Peninggalan Sejarah Kerajaan Islam di Indonesia

1. Samudera Pasai

Samudera Pasai terletak di Lhoksumawe, Aceh. Berdiri pada abad ke-13 dan merupakan Kerajaan Islam pertama di Indonesia dengan nama raja pertama Marah Silu yang bergelar Sultan Malik Al-Soleh. Masa kejayaan Samudera Pasai adalah pada saat diperintah oleh Sultan At-Tahir II dengan bukti, Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Agama Islam.  
Peninggalan sejarah Kerajaan Samudera Pasai adalah mata uang emas dan makam Raja Malik Al-Saleh di Gedong Aceh Utara. Pada tahun 1510-1530, Portugis datang dan menguasai Samudera Pasai. Para pedagang Islam mencari pelabuhan baru yaitu Aceh.


 2. Kerajaan Aceh
 Kerajaan aceh terletak di tepi Selat Malaka yang berpusat di Kutaraja, Banda aceh Berdiri pada abad ke-16 dengan raja pertama Sultan Ali Mughayat Syah (1514 - 1528). Karena Sultan Ali Mughayat Syah wafat diganti putranya Salahudin (1530 -  1537). Karena Salahudin tidak cakap, kemudian digantikan adiknya yaitu Alaudin Riayat Syah yang bergelar Al Qohhar. 
Sultan Alaudin pernah bekerja sama dengan Turki di Istambul. Sekitar 40 perwira Turki melatih tentara dan mengajarkan cara membuat meriam di Aceh. Ia memerintah tahun 1537 -1568 M. Setelah wafat, digantikan putranya Husain. Husain tewas dalam perang saudara sehingga digantikan oleh Ali Riayat Syah.
Raja terkenal dari Aceh yang membawa ke zaman keemasan adalah Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Ia berhasil menaklukan Johor, Pahang dan Kedah. Sepeninggal  Sultan Iskandar Muda, digantikan Sultan Iskandar Thani. 
Pujangga terkenal dari Aceh antara lain Hanzah Fausuri, Syamsudin Samatrani, Nurudin ar Raniri dan Abdurouf Singkel
 


3. Kerajaan Demak

Kerajaan Demak Kerajaan Demak terletak di muara Sungai Bintoro, Demak, Jawa Tengah. Berdiri pada abad ke-16 dengan raja pertama Raden Patah (Panembahan Jimbun atau Pate Radim). Setelah wafat, kemudian digantikan putranya yaitu Adipati Unus (Pangeran Sabrang Lor) yang memerintah dari tahun 1518-1521. Setelah wafat, kemudian digantikan Sultan Trenggono.

Demak mengalami kejayaan pada masa Sultan Trenggono. Sepeninggal Sultan Trenggono, Kerajaan Demak kacau karena adanya perebutan kekuasaan. Akhirnya, menantu Sultan Trenggono yaitu Adiwijaya (Jaka Tingkir) berkuasa di Demak. Sejak itu pusat pemerintahan dipindahkan ke Pajang pada tahun 1568

Peninggalan sejarah Kerajaan Demak, antara lain Masjid Agung Demak yang didirikan tahun 1478 oleh Walisongo, saka tatal (Tiang masjid), bedug dan kentongan, pintu bledeg atau petir buatan Ki Ageng Selo, dampar kencana (tempat duduk raja) dan piring Campa 61 buah, pemberian Ibu Raden Patah yaitu Puteri Campa.

Penyebaran agama Islam di Jawa dibantu oleh para wali. Karena jumlah wali tersebut ada sembilan orang, maka disebut Walisongo. Sembilan wali tersebut adalah sebagai berikut:


 a. Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Ainul Yakin) 
 b. Sunan Ampel (Raden Rahmat) 
 c. Sunan Bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim) 
 d. Sunan Drajat (Raden Kosim Syarifudin) 
 e. Sunan Muria (Raden Umar Syaid) 
 f. Sunan Kalijaga (Raden Syahid)
 g. Sunan Gresik (Raden Maulana Malik Ibrahim) 
 h. Sunan Kudus (Raden Jakfar Sadiq)
 i. Sunan Gunung Jati (Fatahillah atau Raden Syarief Hidayatullah).


4. Kerajaan Banten dan Cirebon

Kerajaan Banten dan Cirebon Kerajaan Banten dan Cirebon didirikan oleh Fatahillah atau Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, panglima Kesultanan Demak. Tahun 1526, Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis dan tanggal 22 Juni 1527 diubah namanya menjadi Jayakarta (Jakarta). Tahun 1552, Banten diserahkan kepada putranya Pangeran Hassanudin dan Cirebon diberikan ke Pangeran Pasarean.

 Banten mengalami kejayaan pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1680) yang gugur melawan Belanda. Peningalan sejarah Kerajaan Banten dan Cirebon antara lain Masjid Agung Banten, meriam Ki Amok dan gapura sebagai pintu gerbang di Kerajaan Banten. 


 5. Kerajaan Ternate dan Tidore

Kerajaan Ternate dan Tidore terletak di Sampalu, Ternate dan Pulau Tidore di Maluku Utara. Berdiri pada abad ke-16 dengan raja pertama Sultan Zainal Abidin (1486-1500). Raja terkenal Ternate adalah Sultan Hairun dan Sultan Baabullah yang gigih melawan dan mengusir Portugis dari Maluku (1536 - 1583). Hasil utama Kerajaan Ternate dan Tidore adalah cengkih dan pala. Tidore didirikan oleh Sultan Mansur. Raja Tidore yang terkenal adalah Sultan Nuku.

  6. Kerajaan Gowa-Tallo

Kerajaan Gowa-Tallo Kerajaan Gowa-Tallo terletak di Somba Opu, Makassar, Sulawesi Selatan. Raja Gowa bergelar Daeng, dan Raja Tallo bergelar Karaeng. Raja Gowa Daeng Manrabia (Sultan Alaudin) dan Raja Tallo yaitu Karang Matoaya (Sultan Abdullah Awalul Islam) menyatakan penggabungan dua kerajaan menjadi dwi tunggal. Raja terkenal dari Gowa-Tallo adalah Hasanudin (1653 - 1669), karena ketegasan-nya Belanda menjuluki Sultan Hasanudin dengan sebutan Ayam Jantan dari Timur.

Peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo antara lain Rumah raja Gowa, Kapal Pinishi dan Kapal Layar Kora-kora. Kehancuran Gowa-Tallo adalah karena penghianatan Raja Arupalaka dari Bone. Belanda berhasil mengalahkan Sultan Hassanudin dengan memaksanya menandatangani Perjanjian Bongaya tahun 1667.

sumber: Buku IPS Kelas 5

2 comments:

Hana Fiah said...

Kok ga ada kerajaan malaka ???saran saya ditambahkan lagi informasinya dengan menambahkan nama - nama raja dan kerajaan malaka

Anonymous said...

Pelurusan Sejarah, Raja Arupalakka bukan pengkhianat, tapi apa yang terjadi pada zaman itu adalah persaingan antara dua Kerajaan Besar untuk memperebutkan hegemoni di Sulawesia.

Post a Comment

 

©2013 the healing | by eppoh