11.5.11

Jika Kenyataan tidak sesuai Harapan


Tidak ada pernikahan yang sempurna. Dan tak ada pasangan yang sempurna. Walaupun begitu, kebanyakan orang berfantasi seperti apa seharusnya pasangan mereka. Itu memang fantasi yang menyenangkan, tetapi fantasi itu mungkin lebih banyak berdasarkan pada film-film romantis, buku-buku romantis, lagu-lagu cinta, pikiran yang penuh khayalan, dan gejolak cinta pertama daripada kenyataan.

Saya telah bertemu dengan begitu banyak orang yang masih menyimpan gambaran dari pasangan yang sempurna di hati mereka. Setiap kali mereka menarik keluar gambaran itu dan membandingkannya dengan pasangan mereka, mereka akan kecewa dengan apa yang telah mereka peroleh.

Waktunya bagi Anda untuk menghadapi kenyataan. Pria dan wanita biasanya mempunyai serangkaian harapan tidak realistis yang unik. Berikut beberapa contoh harapan yang tidak realistis dari wanita:

Suamiku akan mengetahui kebutuhanku. Mengapa ia harus tahu? Suami Anda tidak berpikir seperti Anda dan tak akan pernah demikian. Berilah ia waktu sejenak. Seandainya Anda memerlukan sesuatu, katakanlah. Jangan bertele-tele: katakan langsung saja.

Ia akan mengabulkan semua kebutuhanku. Itu tidak mungkin terjadi, sekalipun Anda memberitahukan apa kebutuhan Anda. Tetapi suami Anda akan mengabulkan beberapa. Carilah Tuhan, sahabat-sahabat, dan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sisanya.

Ia akan berbicara lebih banyak kepadaku. Pasti, suami Anda dapat mencoba lebih keras dan mungkin seharusnya demikian. Tetapi ingat, ia merasa tidak nyaman berbicara banyak sebagaimana halnya Anda, terutama tentang emosi, kesulitan, dan masalah relasi.

Ia akan berbuat sesuai dengan kesanggupannya. Wanita mempunyai kemampuan yang menakjubkan untuk melihat potensi yang ada pada pria. Itulah sebagian alasan Anda menikahinya. Dukunglah suami Anda, tetapi sadarilah bahwa ia mungkin tidak akan pernah mencapai semua tujuan yang Anda kira bisa didapatkannya.

Ia tidak akan seperti pria lain. Tentu saja suami Anda akan seperti pria lain. Ia memang tidak harus kasar, tidak sopan atau bodoh. Tetapi apakah Anda benar-benar menginginkannya seperti seorang perempuan? Pria adalah pria.

Dalam batasan-batasan yang wajar, tak ada yang salah dengan harapan sehari-hari yang normal ini. Tetapi Anda hanya akan menemui ketidakbahagiaan seandainya Anda terpaku pada harapan-harapan itu. Lepaskan harapan-harapan yang telah membuat suami Anda terbelenggu. Dan jika ada harapan yang menjadi kenyataan, rayakanlah!

Nah, pria juga mempunyai serangkaian harapan yang tidak realistis. Tidak lebih baik dan tidak lebih jelek dari harapan istrinya. Keduanya sama-sama tidak realistis, tidak beralasan dan tidak adil.

Istriku akan selalu mengatakan kepadaku apa yang ia perlukan. Pasti, istri Anda adalah seorang ahli komunikasi, tetapi ia masih memerlukan Anda untuk memberinya waktu, kesempatan bicara dan ketentraman hati tanpa harus meminta.
Ia tidak terlalu cerewet dan emosi. Nah, ini masalahnya. Jangan minta istri Anda diam. Biarkan ia berbicara, Anda mendengarkan. Biarkan ia menunjukkan emosi, Anda menghibur dan menguatkan.

Ia akan memahami aku. Anda berbeda dari istri Anda. Bagaimana ia dapat mengerti kecuali Anda membicarakannya. Katakan kepadanya apa yang ada di pikiran dan hati Anda. Hal itu tidak akan membunuh Anda.

Ia akan tegar dan tidak lemah. Anda pikir Anda ingin istri Anda menjadi seorang pria? Biarkan ia tetap feminim. Anda yang harus tegar. Dampingilah ia dan tolonglah ia ketika lemah.

Ia akan tahu bagaimana aku mencintainya. Ya, Anda menunjukkan cinta dengan bekerja keras. Tetapi jangan lupa, istri Anda memerlukan lebih. Ia memerlukan waktu bersama, bunga dan kartu ucapan. Istri Anda mengharapkan Anda mengucapkan “Aku cinta padamu” tidak hanya ketika Anda berada di kamar tidur.
Tidak semua harapan itu buruk. Tetapi harapan dapat menyebabkan kekecewaan. Harapan dapat menjebak seseorang dalam cara pandang yang egosentris di mana seorang pasangan diharapkan “memenuhi kebutuhanku”, “melihat semuanya dengan caraku”, dan “melakukan kehendakku”. Harapan membuat seseorang berkutat dalam ketidakdewasaan, di mana mereka tidak menghadapi kenyataan pernikahan atau perbedaan-perbedaan yang tidak dapat dihindari. Ketidakdewasaan melekat pada apa yang diinginkan dan menciptakan kemarahan ketika tidak memperolehnya.

Sebaliknya, kedewasaan tahu bahwa tak menjadi masalah bagaimana seseorang berpikir dan mempercayai kehidupan seperti yang seharusnya, bahwa setiap pasangan harus hidup dalam realitas. Para pasangan yang sehat akan menyingkirkan harapan-harapan palsu mereka. Mereka dengan senang hati akan menerima perbedaan yang ada di antara mereka dengan pasangan. Mereka menghormati, menghargai dan mensyukuri hal-hal yang berbeda dari pasangan mereka, walaupun itu menghancurkan harapan mereka.

Harapan-harapan yang tidak terwujud menimbulkan sakit hati, dan rasa sakit hati itu pembunuh relasi. Rasa sakit hati itu dingin dan pahit. Rasa sakit hati itu mengacungkan telunjuk yang salah dan melontarkan tuduhan, “Kamu tidak memperlakukan aku seperti yang patut aku dapatkan.” Rasa sakit hati itu tidak dapat – atau tidak akan – melihat perspektif orang lain.

Akan tetapi, rasa sakit hati bisa disembuhkan. Fleksibilitas akan membebaskan harapan-harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Pernah dikatakan bahwa, “Dunia ini kejam untuk orang yang keras hati, tetapi ramah bagi orang yang fleksibel.” Pengampunan melepaskan orang dari rasa sakit dan kecewa; pengampunan akan bergerak maju. Pengampunan merupakan anugerah terbesar yang dapat Anda berikan kepada pasangan Anda – dan diri Anda sendiri. Dan kebaikan hati memeluk pasangan dengan cinta dan bela rasa. Dengan hal-hal ini, pernikahan Anda akan tumbuh subur.

Sumber : Dr. Steve Stephens – Lost In Translation

No comments:

Post a Comment

 

©2013 the healing | by eppoh